Spiritualitas Dalam Kehidupan Nyata

EST 1981
Image

"Spiritualitas bukanlah sekadar ritual atau pencarian hal-hal yang tak terlihat (ghaib)".

Ia adalah tentang kompetensi manusia, sebuah latihan terus-menerus untuk memunculkan potensi terbaik dalam diri demi meraih kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan sejati. Praktik spiritual bukanlah alasan untuk menjadi malas atau mudah putus asa.

Sebaliknya, ia mengajarkan kita menata kehidupan nyata dengan kedisiplinan dan ketekunan. Spiritualitas bukan sekadar menarik energi dari semesta, tetapi tentang mengolah energi negatif menjadi positif, sehingga dimanapun kita berada, kita menjadi penyembuh, pencerah, dan sumber kebaikan bagi sesama.

Spiritualitas adalah tentang isi, yaitu manusia dengan nilai-nilai luhur yang telah tertanam sejak lahir. Nilai-nilai ini harus digali, diasah, dan dikembangkan agar kita dapat menjadi manusia yang sempurna dan manusia yang mampu menyempurnakan.

Suluk Peradaban adalah jalan bagi setiap manusia untuk menjalani spiritualitas sebagai kekuatan yang nyata, membangun kehidupan yang tidak hanya harmonis untuk diri sendiri, tetapi juga membawa terang bagi dunia.


Apa yang sedang kita cari?

Keadaan kita sebagai manusia adalah hidup dalam satu dunia penderitaan, kehilangan dan kematian, banyaknya kenikmatan dan kekayaan tidak bisa menolak realita ini. Sarana kesenangan kita adalah tubuh, dan tubuh adalah sasaran rasa jenuh, penyakit dan kematian. Kita membutuhkan perjuangan dan perjalanan yang luar biasa untuk melampaui itu semua, perjuangan dan perjalanan itu disebut “spiritual”.

Spiritual itu bukan agama, bukan suku dan bukan budaya, akan tetapi spiritual itu adalah “nilai-nilai luhur manusia” bawaan dari lahir. Spiritual inilah yang melahirkan peradaban, norma, agama, budaya dan suku bangsa. Itu sebabnya, agama dan budaya tidak bisa sepenuhnya menanamkan dan menumbuhkan “nilai-nilai luhur manusia”, meskipun ajaran agama dan budaya itu mengajarkan kebaikan dan keluhuran budi.

Agama tidak dijadikan alat untuk pemersatu, justru sebagai alat kepentingan pribadi dan kelompok, sebagai alat permusuhan dengan kearifan dan budaya lokal, sehingga norma, etika, kepatutan dan moral tidak lagi bernilai. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita dewasa ini.

Mayoritas manusia hidup dewasa ini, dalam kondisi teralienasi dari realitas spiritual dan dari esensi mereka sendiri. Semua tata cara hidup dan pengenalan diri sendiri tidak bisa secara langsung dirasakan dan menjadiakan keadaan dirinya menjadi semakin baik, melainkan disaring melalui beberapa lapisan.

Melalui pengondisian mental dan emosi dalam bentuk distorsi subyektif, mekanisme bertahan hidup dan prasangka kultural, itulah yang membuat kita hidup dalam kepalsuan, dan melahirkan diri yang palsu dan manipulatif, meskipun kita berbudaya, akan tetapi cara berbudaya kita palsu, meskipun kita beragama, namun cara beragama kita palsu.

Kemudian, kita hidup dalam kondisi yang secara spikologis terpecah belah, suatu kondisi konflik bathin yang terus menerus, diantara bagian-bagian diri kita sendiri. Kita telah kehilangan kesatuan dan keselarasan di dalam diri sendiri, hati dan pikiran tidak pernah selaras, dan mengundang segala masalah dari luar ke dalam diri.

Diri yang tidak bersatu dan tidak selaras, menjadikan diri kita banyak perintah, banyak keinginan dan banyak kesenangan yang harus diikuti, itu sangat melelahkan dan membosankan, membuat kita kehilangan esensi.

Seseorang yang selalu berkoflik dengan dirinya sendiri, kehidupan sosialnyapun akan berkonfik, rejekinya, ketenangannya dan seluruh aspek hidupnya akan selalu berkonflik. Berbeda halnya, dengan manusia yang telah menghilangkan kepalsuannya, maka hidupnya akan harmoni dan harmonis, ditengah-tengah perbedaan dan keaneka ragaman.